20
Mei
08

Sebuah Ibrah dari: Desa Yang Musnah di Daerah Dieng

 

Tulisan berikut ini di-copy dari: abasalma.wordpress.com; sedangkan gambar dari http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx?id=3721 Semoga bermanfaat

 

 Desa Yang Musnah di Daerah Dieng

 Desember 1, 2007

Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Desa Yang Musnah di Daerah Dieng

Oleh : Abu Tilmidz

 

Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَتَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).

Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.

Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

 

Semoga bermanfaat

Allah Maha Besar.

Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.

Wallahu a’lam bish shawab.

 Itulah yang saya kutip dari abasalma.wordpress.com. Fakta bencana itu diperkuat dengan adanya tugu peringatan, tetapi benar tidaknya  ”kisah penyebabnya” silakan direnungkan (kalau perlu dicek sendiri). Pelajaran dari fakta musibah dan kisahnya, setidaknya semoga membuat kita makin tahu harus bagaimana kita di dunia ini.

 

 

 


4 Tanggapan ke “Sebuah Ibrah dari: Desa Yang Musnah di Daerah Dieng”


  1. 1 maman
    23 Mei, 2008 pukul 11:30 am

    Maksiat Penyebab Bencana, Taubat Menghilangkannya
    Oleh : Uti Konsen.U.M

    “Musibah lebih disebabkan oleh perbuatan maksiat. Dan bencana dapat dihindari dengan memperbanyak taubat “ kilah Amru Khalid dalam bukunya Ghayyir Nafsaka. Ali bin Abi Thalib KW mengungkapkan : “Bencana kerap disebabkan oleh kemaksiatan. Dan hanya taubatlah yang dapat memalingkannya.”

    Adam AS diusir dari surga, karena maksiat. Iblis mendapat laknat dari Allah, karena maksiat. Kaum Nuh ditenggelamkan, karena maksiat ( Al Qamar 11-12 ). Allah SWT menenggelamkan Fir’aun, karena maksiat ( Al Qashas 40 ). Kaum Luth dibinasakan Allah SWT karena maksiat ( Al Hijr 74 ). Kaum ‘Ad dan kota mereka yang tidak tertandingi, dilenyapkan Allah SWT karena maksiat ( Al Ahzab 9 ). Bani Israil, diazab Allah juga karena maksiat ( Al Isra 5 ). Rasulullah SAW bersabda : “Bila terjadi kemaksiatan di umatku, maka Allah akan memberikan azabnya untuk semua.” HR.Ahmad ). Kemudian Rasul SAW mengingatkan : “Kalian harus mewaspadai dosa-dosa kecil. Kelak ia akan menumpuk dalam diri seseorang dan kemudian membinasakannya.“ ( HR.Ahmad ).

    Ketika Umar bin Khattab RA melepas pasukan perangnya, khalifah kedua ini berpesan : “Aku tidak takut dengan musuh-musuh kalian. Aku hanya takut bila kalian berbuat maksiat. Sebab bila kalian berbuat maksiat, Allah tidak akan menolong kalian “.

    Ketika pasukan Muslimin menaklukkan Qurbus dan memukul mundur pasukan adidaya Romawi, sementara kaum Muslimin merayakan kemenangannya, Abu Darda menangis. Ketika ditanya sebabnya, sahabat besar ini menjawab “Aku menangisi umat yang telah melakukan kemaksiatan. Allah kemudian meminggirkan mereka.”

    Satu hari Anas bin Malik bertanya kepada Aisyah RA : “Ibu, terangkan kepadaku tentang gempa yang terjadi.” Ummul Mukminin ini menjawab : “Gempa terjadi bila maksiat merejalela. Zina adalah pemandangan yang lumrah. Minuman keras menjadi konsumsi umum dan dosa-dosa besar tidak lagi luar biasa. Allah pun kemudian memerintahkan timpakan gempa pada mereka,“ jelas Siti Aisyah RA.

    Anas bin Malik ketika melihat ada yang meremehkan dosa-dosa kecil berkata : “Kalian telah banyak melakukan perbuatan dosa kecil yang di masa Rasulullah merupakan dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.” Lalu beliau membaca firman Alah : “Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar “ ( An-Nur 15 ).

    Ujar Ibnu Qayyim, “Janganlah dirimu pernah merasa tenang setelah melakukan maksiat. Karena tidak ada dosa yang tanpa sangsi. Anda yang bangga dengan maksiat, lebih dibenci Allah dari sekedar maksiat yang dilakukan “ Simak Al An’Am 44.

    Dalam satu hadis qudsi, Allah SWT berfirman : “Aku adalah Tuhan, tidak ada Tuhan selain Aku. Bila dipatuhi Aku senang, dan bila didurhakai, Aku akan murka. Bila Aku murka, Aku akan melaknat hingga tujuh turunan.”

    Seorang ulama salaf berkata : “Setiap seorang hamba berbuat dosa, bumi tempat ia berdiri meminta keizinan Tuhan untuk membenamkannya dan langit yang di atas kepalanya memohon izin untuk gugur menimpanya, tetapi Tuhan berfirman pada langit dan bumi itu. ‘Tahanlah bahaya untuk hamba-Ku dan beri dia waktu. Mungkin dia bertaubat kepada-Ku lalu Aku ampunkan dan mungkin saja dia menggantikan kerja buruknya dengan amalan yang baik, lalu Aku gantikan dosanya dengan pahala.” Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi dari terjatuh dan kalau keduanya terjatuh tiada seorang pun yang akan menahan selain Dia “ (Fatir 41 ).

    Untuk mengatsi maksiat, ujar Amru Khalid dalam bukunya Ghayyir Nafsaka, anda harus memiliki niat dan tekad untuk meninggalkannya. Sebab Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ ( Ar-Rad 11 ).

    Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda : “Setiap orang terbaik diantara yang bersalah adalah yang bertaubat “ ( HT.Turmuzi, Ibnu Majah dan Al Hakim ). Allah SWT Maha Pengampun. Firman-Nya “Dan mintalah engkau ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ ( Al Muzammil 20 ).

    Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman : “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku, berharap dan meminta ampun. Niscaya Aku mengampunimu dan tak Kupedulikan ( berapa besar dosamu ). Wahai Anak Adam, seandainya dosa-dosamu menumpuk hingga mencapai sejauh mata memandang langit , lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau menjumpai-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, niscaya Aku menyambutmu dengan ampunan sepenuh bumi pula “ ( HR.Turmuzi )

    Siti Aisyah RA bertanya kepada Rasul SAW : “Wahai Rasulullah, apakah ada umatmu yang nanti dapat masuk surga tanpa hisab ? “Beliau menjawab : “Ada, yaitu orang yang mengenang dosanya lalu dia menangis.“ Malik bin Dinar berkata : “Menangis karena menyesali kesalahan mengeringkan kesalahan itu, sebagaimana angin mengeringkan daun basah.“ Dalam satu hadis Rasul SAW menerangkan bahwa mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah, tidak akan disentuh oleh api neraka “

    Hari terbaik bagi kita adalah ketika kita bertaubat dengan sungguh – sungguh dan Allah menerimanya. Taubat merupakan anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita agar dapat meraih surga-Nya bersama orang-orang yang dipilih-Nya. Wallahualam. **

  2. 2 ansoriyadi
    23 Mei, 2008 pukul 3:36 pm

    Alhamdulillah.
    Jazakallahu khoyron, ya akh Maman.
    Betapa indah dan nikmatnya kehidupan yang bertabur wasiat kebenaran dan kesabaran seperti yang telah Bang Maman “komentar”-kan di sini.
    O, ya. ini cuma sekadar ungkapan rasa cinta saja: Saya kok lebih mantap menuliskan Subhanahu wa Ta’ala (bukan SWT), atau shallallahu ‘alayhi wasallam (daripada saw.), atau radliyallahu ‘anhu (ketimbang r.a.), atau ‘alayhissalam (untuk a.s.), dan seterusnya. Gimana? Maaf, ya Akh.
    Matur nuwun.

  3. 3 maman
    26 Mei, 2008 pukul 11:17 am

    SIH…..MAUNYA…. (secuil artikel yang lebih mendidik)

    Tanpa kemauan dan tekad yang bulat ya.. sia-sia saja. sih…maunya.

    Berdoa tanpa usaha ya.. sia-sia saja. sih… maunya.

    Usaha tanpa berdoa ya.. sia-sia saja. sih …. maunya.

    Tapi seribu orang berkata sih…maunya, namun saya yakin dengan usaha

    dan doa kita, suatu saat negara ini akan berubah menjadi suatu negara yang

    makmur. sih…maunya.

  4. 4 narto
    4 Juni, 2008 pukul 11:17 am

    Hancurnya agama Anda, kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, adalah karena 4 hal: (1) Anda tidak mengamalkan apa yang Anda ketahui; (2) Anda mengamalkan apa yang Anda tidak ketahui; (3) Anda tidak mencari tahu apa yang Anda tidak ketahui; (4) Anda menolak orang yang mengajari Anda apa yang tidak Anda ketahui (Jailani, Al-Fath ar-Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, hlm. 43. Beirut: 1998). Read more »
    Print Print
    May 06
    Istiqamah
    Ibrah No Comments »

    Dalam bukunya, Haml ad-Da‘wah al-Islâmiyyah Wâjibât wa Shifât, Mahmud Abdul Lathif ’Uwaidhah menjelaskan bahwa mengemban dakwah (haml ad-da’wah) terdiri dari dua kata: mengemban (haml[un]) dan dakwah (ad-da’wah). Mengemban adalah satu hal dan dakwah adalah hal lain. Dakwah bisa dimaknai sebagai sekumpulan pemikiran dan hukum-hukum syariah, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan. Adapun mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (tablig). Karena itu, mengemban dakwah (haml ad-da’wah) bisa didefinisikan: menyampaikan—kepada manusia—pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah Islam (’Uwaidhah, 1996: 229). Read more »
    Print Print
    Apr 01
    Kesejahteraan Rakyat
    Ibrah No Comments »

    Masa Khalifah Umar bin al-Khaththab (13-23 H/634-644 M). Hanya dalam 10 tahun masa pemerintahannya, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negeri. Pada masanya, di Yaman, misalnya, Muadz bin Jabal sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat. Read more »
    Print Print
    Mar 20
    Kekuasaan Khilafah
    Ibrah No Comments »

    Sejak Baginda Rasulullah saw. berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah, dalam waktu singkat, kekuasaan Islam semakin meluas. Dari semula hanya berupa “negara kota” di Madinah, Daulah Islam pada zaman Nabi saw. berhasil menggabungkan wilayah-wilayah sekitarnya di Jazirah Arab ke dalam pangkuan Daulah. Read more »
    Print Print
    Feb 05
    Pembajak Al-Quran
    Ibrah 1 Comment »

    Suatu ketika, Amr bin al-’Ash, sebelum masuk Islam, pernah diutus kepada Musailamah al-Kadzdzâb. Musailamah lalu bertanya, “Apa yang saat ini turun kepada sahabatmu (Muhammad) di Makkah?”

    Amr menjawab, “Sesungguhnya baru saja turun kepada Muhammad satu surah yang ringkas tetapi padat isinya.”

    “Apa itu?” tanya Musailamah lagi. Read more »
    Print Print
    Jan 04
    Misi Islam
    Ibrah No Comments »

    Ruba’i bin Amir melaju cepat dengan kudanya. Ia menuju perkemahan Rustum, Panglima Pasukan Kerajaan Persia saat itu. Setibanya di sana, ia mendapati semua pembesarnya berpakaian kenegaraan. Majelis mereka dihiasi dengan hamparan permadani dan sutra yang serba mahal. Rustum duduk di singgasananya. Ia memakai mahkota emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal. Sebaliknya, Ruba’i bin Amir, Panglima Pasukan kaum Muslim itu, hanya berpakaian kasar dan sederhana. Read more »
    Print Print
    Dec 04
    HAM dan Demokrasi
    Ibrah No Comments »

    resize-of-ariefbillthumb.jpgKalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan adalah Ustadz. Sebab, kalau tidak, itu namanya diktator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Namun, kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya… Read more »
    Print Print
    Nov 02
    Propaganda
    Ibrah No Comments »

    resize-of-ariefbillthumb.jpgSeorang guru Muslimah berjilbab rapi tampak di depan kelas sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia berdiri menghadap murid-muridnya. Sang guru berkata, “Anak-anak, Ibu punya permainan. Begini, di tangan kiri Ibu sekarang ada kapur, dan di tangan kanan ada pensil. Jika Ibu mengangkat kapur ini maka katakan dengan keras, ‘Kapur!’ Jika Ibu mengangkat pensil


Tinggalkan Balasan




 

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031